Dana Desa Bisa Menjadi Instrumen Memuliakan Perempuan Jika…..

Dana Desa Bisa Menjadi Instrumen Memuliakan Perempuan Jika..... - Desapedia

Jakarta, desapedia.id – Talkshow Kajian Desa bareng Iwan atau Kades Iwan episode Selasa (26/7) yang disiarkan secara langsung di TV Desa membahas tema “Dana Desa Semakin Muliakan Perempuan?”, menghadiri sejumlah narasumber, salah satunya Pendiri dan Ketua Yayasan Pemberdayaan Perempua Kepala Keluarga (Pekka), Nani Zulminarni.

“Saya apresiasi pemeerintah yang terus meningkatkan jumlah alokasi Dana Desa yang bersumber dari APBN untuk perempuan kepala keluarga. Kemendes PDTT telah memberikan perhatian khusus kepada perempuan kepala keluarga”, ujar Bunda Nani, sapaan akrabnya mengawali paparannya.

Menurutnya, dana desa bisa menjadi instrumen memuliakan perempuan jika dana tersebut responsif dan adil gender serta inklusif, memperhatikan berbagai kebutuhan, aspirasi, pemenuhan hak, serta memberikan kesempatan kepada perempuan, anak, kaum muda, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya agar dapat berperan optimal serta mendapatkan manfaat maksimal dalam proses pembangunan desa.

Bunda Nani mengungkapkan, persoalan menantang saat ini adalah kesenjangan gender dan ketidakadilan gender yang tidak terpecahkan sampai saat ini.

“Dana desa untuk perempuan harus mampu menyelesaikan kesenjangan gender. Apakah harus dalam bentuk BLT dan bagaimana kesinambungan Dana Desa untuk perempuan, ini yang menjadi concern Yayasan Pekka”, tegas Nani.

Bunda Nani menjelaskan, Yayasan Pekka terus melakukan advokasi dana desa untuk perempuan sebagai upaya menjawab kesenjangan gender dan ketidakadilan gender.

“Kami bekerja di 2000 desa untuk mengorganisir komunitas perempuan kepala keluarga yaitu membangun kemandirian perempuan untuk memperkuat kepemimpinannya. Kita bekerjasama dengan Pemerintah Desa atau Pemdes, peserta direkomendasi oleh Kades dan didanai oleh Dana Desa. dengan program ini dana desa telah digunakan untuk membangun SDM yang akan menjadi penggerak membantu program Pemdes. Karena kami percaya perempuan hebat, desa berdaulat”, imbuhnya.

Pendiri Yayasan Pekka ini menilai dana desa harus dirancang sesuai dengan konteks desanya masing–masing. Oleh karena itu perlu untuk pelibatan seluruh stakeholders dan elemen didalam masyarakat desa dalam merencanakan dana desa.

“Saya merasa tidak terlalu tepat ketika dana desa itu kebijakan umumnya dibuat secara nasional, karena desa diseluruh Indonesia beragam konteksnya, prioritasnya dan kebutuhannya. Karena itu yang paling penting adalah bagaimana memastikan seluruh warga desa bisa terlibat didalam  proses perancangan penggunaan dana desa”, jelas Nani.

Bunda Nani menilai dana desa untuk perempuan harus mendukung proses kegiatan pemberdayaan perempuan, ini adalah tahapan wajib ketika kita ingin partisipasi aktif dari perempuan yang tidak bisa hanya dengan kebijakan. (Red)