Lewati ke konten

Temuan Utama Celios: Mendes PDT Perlu di Reshuffle dalam 6 Bulan Pertama

Temuan Utama Celios: Mendes PDT Perlu di Reshuffle dalam 6 Bulan Pertama - PT Desapedia Bangun Jaya

Mendes PDT Yandri Susanto

Jakarta, desapedia.id – CELIOS atau Center of Economic and Law Studies yang merupakan lembaga penelitian independen yang fokus pada kajian makro-ekonomi, keadilan fiskal, transisi energi, dan kebijakan publik. Dalam kajian terbarunya soal evaluasi kinerja 100 hari pertama pemerintahan Prabowo-Gibran, Celios memberikan rapor merah kepada sejumlah menteri.

Salah satu Menteri yang diberikan rapor merah tersebut adalah Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto.

Dalam laporannya di temuan utama, Celios menyebutkan menteri berkinerja terburuk terdiri dari Menteri HAM Natalius Pigai dengan skor -113 poin, Menkop Budi Arie Setiadi dengan skor -61 poin, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dengan skor -41 poin, Menhut Raja Juli Antoni dengan skor -36 poin dan Mendes PDT Yandri Susanto dengan skor -28 poin.

Temuan utama Celios lainnya yaitu soal Menteri-menteri yang perlu di-reshuffle. Diantaranya berurutan sebagai berikut: Menhut Raja Juli Antoni dengan 56 poin, Menkop Budi Arie Setiadi 48 poin, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia 46 poin, Menteri HAM Natalius Pigai 41 poin dan Mendes PDT Yandri Susanto 26 poin.

“Menteri dengan skor terendah adalah Yandri Susanto sebagai Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal yang mendapatkan nilai -29. Posisi ini tak lepas dari kontroversi kebijakan desa yang memicu kritik tajam, ditambah dugaan konfik kepentingan yang mencuat sejak awal masa jabatannya”, tulis Celios di laporannya dalam sub judul Kinerja Menteri di Bidang Sosial dan Politik selama 100 hari pertama.

Dalam laporannya, Celios menyatakan bahwa studi ini bertujuan untuk menyajikan analisis, mengupas berbagai capaian, tantangan, dan potensi perbaikan kabinet baru ini.

Dalam 100 hari pertama ini, sebenarnya kita sudah mulai dapat mengukur mana menteri yang betul-betul bekerja untuk rakyat dan menteri yang justru memunggungi hak-hak public”, tegas Celios didalam laporannya.

Harapan Celios, studi sederhana ini dapat menjadi tolok ukur awal yang tidak hanya mendiagnosis kinerja, tetapi juga memberikan rekomendasi strategis untuk masa depan. Sebab, 100 hari pertama bukanlah akhir, melainkan pondasi untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas kebijakan Indonesia era Prabowo-Gibran.

Celios juga menjelaskan ruang lingkup penelitiannya yang mencakup identikasi menteri dengan kinerja terbaik dan terburuk berdasarkan indicator keberhasilan program kerja; analisis tingkat kolaborasi dan sinergi antar kementerian dalam mendukung agenda nasional; penilaian terhadap sektor-sektor yang belum diintervensi secara efektif oleh kabinet, beserta tantangan dan peluang perbaikannya.

Dalam studinya, Celios menggunakan indikator yang terdiri dari pencapaian program; kesesuaian rencana kebijakan dengan kebutuhan publik; kualitas kepemimpinan dan koordinasi; tata kelola anggaran; dan komunikasi kebijakan. (Red)

 

 

Kembali ke atas laman