Jakarta, desapedia.id – DPP APDESI Merah Putih menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya seorang anak bangsa, siswa kelas IV SD berinisial YBS berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
APDESI Merah Putih menilai tragedi ini bukan sekadar peristiwa kemanusiaan, tetapi menjadi tamparan keras bagi seluruh pemangku kepentingan, khususnya negara, dalam menjamin hak dasar anak-anak desa.
Dalam siaran persnya, Ketua Umum DPP Asosiasi Pemerintahan Desa Seluruh Indonesia atau APDESI Merah Putih, Asep Anwar Sadat menyatakan peristiwa memilukan ini mencerminkan ketimpangan sosial dan ekonomi yang masih nyata di desa-desa, di mana kemiskinan ekstrem dapat berujung pada beban psikologis yang tidak tertanggungkan, bahkan bagi seorang anak.
“Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan pendidikan paling dasar seperti buku dan alat tulis tidak boleh lagi terjadi di negeri yang menjunjung tinggi amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa”. Tegasnya.
DPP APDESI Merah Putih menegaskan bahwa desa tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri menghadapi kemiskinan struktural.
“Negara harus hadir secara nyata melalui kebijakan perlindungan sosial, afirmasi ekonomi desa, pendampingan keluarga rentan, serta penguatan layanan pendidikan dan kesehatan mental di tingkat desa. Ini adalah kewajiban moral, sosial, dan konstitusional negara”, tambah Ketua Umum APDESI Merah Putih.
Menurutnya, dari aspek hukum, APDESI Merah Putih mendorong aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas peristiwa ini secara profesional dan transparan, guna memastikan tidak adanya kelalaian sistemik, pembiaran, atau kegagalan negara dalam menjalankan fungsi perlindungan terhadap anak.
“Tragedi ini harus menjadi dasar evaluasi menyeluruh terhadap sistem perlindungan anak dan keluarga miskin di daerah tertinggal”, ujarnya.
Dalam siaran pers itu, DPP APDESI Merah Putih mengajak seluruh kepala desa, perangkat desa, tokoh masyarakat, dan pemangku kepentingan di desa untuk memperkuat kepekaan sosial, membangun sistem deteksi dini keluarga rentan, serta memastikan tidak ada satu pun anak desa yang kehilangan harapan karena kemiskinan.
“Peristiwa ini adalah panggilan nurani. Negara harus hadir, hukum harus adil, dan desa harus diperkuat agar tragedi serupa tidak pernah terulang”, timpal Anwar, (Red)





