Lombok Barat, desapedia.id – Pemangkasan Dana Desa tahun anggaran 2026 yang kini sedang terjadi di semua desa-desa dii Indonesia menyurutkan komitmen Pemerintah Desa Senggigi, Kecamatan Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat, NTB dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui program beasiswa sarjana bagi warganya yang kurang mampu namun berprestasi.
Kepala Desa Senggigi Mastur dalam keterangan persnya pada Minggu (8/3/2026) lalu menyatakan tetap menjalankan program beasiswa sarjana bagi warga Desa Senggigi meskipun ada keterbatasan Dana Desa.
Mastur yang juga Ketua APDESI Merah Putih Provinsi NTB ini mengatakan, program beasiswa sarjana bagi warganya yang tidak mampu tetapi berprestasi sudah dijalankan sejak 2024.
“Waktu itu ada enam mahasiswa yang kami biayai. Tahun 2025 ada lima orang, dan tahun 2026 ini juga lima orang. Program beasiswa ini sudah berjalan selama tiga tahun berturut-turut”, ungkap Mastur.
Menurutnya, pendidikan menjadi salah satu prioritas utama dalam pembangunan desa, terutama untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Desa Senggigi.
“Melalui program ini, pemerintah desa menanggung biaya kuliah atau SPP para penerima beasiswa. Beberapa kebutuhan pendukung pendidikan juga ikut dibantu agar mahasiswa bisa fokus menyelesaikan studinya. Jadi setiap tahunnya pemerintah desa mengalokasikan anggaran khusus dari APBDes untuk program tersebut”, ujarnya.
Kades Senggigi ini menambahkan, pada awal pelaksanaan, anggaran yang disiapkan sebesar Rp 50 juta per tahun. Seiring berjalannya waktu, anggaran tersebut terus ditingkatkan. Baru pada tahun kedua Pemdes Senggigi menambah menjadi Rp. 100 juta. Kemudian tahap ketiga anggaran ditambah lagi menjadi Rp 50 juta, jadi totalnya sekarang sudah Rp 150 juta.
Mastur melanjutkan, sumber pembiayaan program tersebut berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes). Mastur menyebutkan, Pendapatan Asli Desa (PADes) Senggigi saat ini mencapai sekitar Rp 275 juta per tahun.
“Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan sebelum saya menjabat sebagai kepala desa yang hanya berkisar Rp 50 juta. Selain PADes, desa juga memperoleh pendapatan dari dana bagi hasil kerja sama dengan gerai ritel modern”, ungkapnya.
Mastur mengungkapkan kunci keberhasilan Pemdes Senggigi yang dipimpinnya mampu menjalankan program beasiswa ini secara berkelanjutan. Menurutnya, kuncinya Adalah pengelolaan anggaran desa dilakukan secara jujur, amanah, dan bertanggung jawab agar program-program yang menyentuh langsung masyarakat bisa terus berjalan.
“Kalau kita jujur dan amanah mengelola anggaran, program seperti ini pasti bisa dilakukan,” tegasnya.
Program beasiswa di Desa Senggigi ini ditujukan bagi lulusan SMA yang memiliki prestasi akademik namun berasal dari keluarga kurang mampu.
“Salah satu syarat utama penerima beasiswa adalah memiliki nilai rata-rata minimal tujuh hingga delapan serta memiliki tekad kuat untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Yang penting anak-anak ini berprestasi dan benar-benar punya niat kuliah. Kalau dari keluarga kurang mampu dan nilainya bagus, kami bantu”, tegas Mastur. (Red)





