Jakarta, desapedia.id – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) berencana melakukan studi dokumentasi untuk sebuah buku yang membahas soal “Refleksi Satu Dasawarsa Dana Desa”.
Rencananya, buku tersebut akan membahas 5 aspek utama, antara lain kondisi umum desa, kondisi desa sebelum dana desa bergulir, kondisi desa saat dana desa digulirkan, perkembangan regulasi dan dampak nyata dana desa terhadap kesejahteraan sosial dan masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Analis Kebijakan Ahli Pertama Kemenkeu, Sukma Aji yang menjadi bagian dari Tim Kemenkeu RI yang berkunjung ke Lampung Selatan pada Selasa (5/5/2026) lalu.
Dalam kesempatan itu, Sukma Aji juga menyampaikan latar belakang dipilihnya 4 desa di Kabupaten Lampung Selatan sebagai Lokasi studi dokumentasi.
“Kemenkeu memilih 4 desa di Lampung Selatan sebagai lokasi studi dokumentasi untuk buku ‘Refleksi Satu Dasawarsa Dana Desa’ karena karakter wilayahnya lengkap dan strategis sebagai gerbang Pulau Sumatra sehingga berpotensi besar menerima limpahan ekonomi dari Pulau Jawa.”, ungkap Sukma Aji.
Keempat desa di Lampung Selatan yang dijadikan sampel utama tersebut antara lain: Desa Sidowaluyo, Balinuraga, Kecapi, dan Canggung.
“Kami menilai keempat desa ini mampu mewakili keberagaman karakter wilayah sekaligus praktik tata kelola dana desa. Kami juga menyoroti adanya sinergi kelembagaan ekonomi desa yang menarik di Lampung Selatan, khususnya antara BUMDes dengan Kawasan Sentra Produksi Pangan (KSPP) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP)”, tegas Sukma Aji.
Sukma Aji menambahkan, penyusunan buku refleksi ini merupakan amanah nasional yang dipantau langsung oleh Bappenas.
“Targetnya, menghasilkan kajian satu dekade Dana Desa dengan standar internasional”, jelasnya.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Lampung Selatan, Erdiyansyah yang hadir menerima audiensi Tim Kemenkeu mengapresiasi dan menyambut baik kunjungan tersebut.
Erdiansyah menegaskan, rencana Kemenkeu ini merupakan momen penting untuk memperlihatkan perkembangan desa-desa di Lampung Selatan yang terus didorong sebagai identitas daerah “Beranda Sumatra”.
“Empat desa sampel yang dipilih memang menggambarkan potensi Lampung Selatan yang beragam, baik dari sektor agraris maupun wisata pesisir”, ujar Erdiyansyah. (Red)





