Lewati ke konten
H. Almalik Pababari
H. Almalik Pababari

UPT Puskesmas Karang Bahagia Bahas Tiga Hal dalam Lokakarya Mini Lintas Sektor

Bekasi, desapedia.id – Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas Karang Bahagia menggelar kegiatan Lokakarya Mini Lintas Sektor, di Aula Kantor Kecamatan Karang Bahagia, Kabupaten Bekasi, Rabu (31/8/2022).

Kepala Puskesmas Karang Bahagia, dr. Yuke Rishna Arryani menjelaskan bahwa dalam lokakarya mini tersebut dibahas tiga hal.

Pertama, permasalahan dari program imunisasi yaitu dalam pelaksanaan kegiatan Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN).

“Kedua adalah mengenai stunting dari program gizi. Kemudian yang terakhir, kami ada sosialisasi penerapan tarif BLUD (badan layanan usaha daerah),” kata dr.  Yuke, usai kegiatan.

UPT Puskesmas Karang Bahagia Bahas Tiga Hal dalam Lokakarya Mini Lintas Sektor - Desapedia

Lebih lanjut dia mengatakan, kegiatan yang dihadiri Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Karang Bahagia dan perwakilan dari pemerintah desa ini dilakukan setiap tiga bulan sekali.

“Di situ (lokakarya) kami bisa sampaikan kegiatan puskesmas apa aja sih. Terus selama 3 bulan itu, apa yang sudah kita kerjakan, sesuai enggak dengan target. Makanya kita sampaikan langsung ke lintas sektor karena puskesmas tidak bisa berdiri sendiri,” ujarnya.

Terlebih lagi, dalam program BIAN ini, permasalahannya cukup banyak, karena sasaran imunisasinya juga banyak. “Kemudian kami ada target, ada deadlinenya, harus selesai bulan September pertengahan,” ucapnya.

UPT Puskesmas Karang Bahagia Bahas Tiga Hal dalam Lokakarya Mini Lintas Sektor - DesapediaBicara penanganan stunting, dia menjelaskan, banyak program yang terkait harus terlibat. “Bukan hanya program gizi aja sebenarnya. Jadi di situ ada surveilans dan ada UKS dari program sekolah, karena kami masuk juga ke sekolah-sekolah untuk pembagian tablet tambah darah. Itu penting juga kaitannya dengan kesinambungan penanganan stunting,” paparnya.

Stunting, tambah dr. Yuke, dimulai dari perbaikan di masa remaja putri. “Jangan sampai remaja putri terkena anemia. Dan sebelum menikah itu ada edukasi calon pengantin, lalu saat ibu hamil dan saat 1000 hari kelahiran pertama bayi,” imbuhnya.

Karena itu, pihaknya saat ini berupaya untuk lebih intens menjalin komunikasi dengan kantor Urusan agama (KUA) setempat. Sebab, calon pengantin yang mendaftar di KUA harus mendapat edukasi masalah kesehatan sebelum menikah.

“Ada kegiatan rutin dari KUA yang meminta kami menjadi narasumber untuk mengedukasi kesehatan calon pengantin sebelum menikah,” ucapnya.

dr. Yuke juga memastikan, tiga hal yang menjadi pembahasan di lokakarya sudah berjalan dengan baik. “Alhamdulillah, di wilayah kerja kami yang meliputi lima desa, tiga hal tersebut sudah berjalan dengan baik,” pungkasnya. (Red)

Milton Pakpahan H. Almalik Pababari
Scroll To Top