Desapedia

Pilpres: Tahan Emosi Demi Stabilitas Ekonomi

AMIDI, Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Palembang dan Pengamat Ekonomi Sumatera Selatan. (Dok)

Oleh: AMIDI (Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Palembang dan Pengamat Ekonomi Sumatera Selatan)

Semakin hari ajang pemilu, terutama  pilpres, semakin seru, masing-masing tim sukses dan calon memainkan strategi promosi-nya, ada yang melakukan kampanye negatif, kampanye hitam, dan yang lebih dominan adalah model kampanye yang menonjolkan SARA. Terlepas etis atau tidak, ini semua dilakukan demi merebut simpati para konsumen (pemilih).

Berbagai media promosi (kampanye) digunakan, tak terkecuali sosial media. Apalagi diketahui bahwa yang menggunakan sosial media tersebut adalah kebanyakan dari kalangan milenial.  Suara pemilih kalangan milenial dalam daftar pemilih tetap KPU proporsinya 34,2 persen dari total pemilih (Tribunnews.com, 15 September 2018)

Bagi pemilih (terutama pemilih diluar kedua tim sukses calon) yang masih mengandalkan emosi, ketimbang mengedepankan rasionalitas, ketimbang menimbang-nimbang produk yang ditawarkan calon, seperti visi-misi-program, track record, dan termasuk integritas calon, saat-nya sudah harus merubah cara menentukan pilihan, unsur rasionalitas harus dikedepankan.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat yang hetrogen ini, baik dari latar belakang pendidikan, sosial maupun agama, memungkinkan banyak faktor yang melatari mereka menentukan pilihannya, namun hindari suatu kondisi yang bertolak belakang (trade-off). Disatu sisi pemilih memahami program ekonomi maupun non ekonomi yang ditawarkan calon, tetapi disisi lain justru pemilih tidak menjadikan pemahamannya sebagai landasan untuk menentukan pilihan, yang ada justru pemilih gagal paham. Fenomena apa yang terjadi?

Dikatakan Burhanuddin Muhtadi (4/2/2018), dari hasil folling-nya ada sekitar 10-20 persen kelompok pemilih yang memahami indikator keberhasilan calon, namun tidak menentukan pilihannya terhadap calon tersebut. Ia memberi alasan karena ada pengaruh yang kuat atas “hoaks” yang dilontarkan.

Mencermati pernyataan Burhanuddin tersebut, begitu dahsyatnya pengaruh hoaks. Betapa tidak, karena hoaks ternyata dapat merusak rasionalitas. Kemudian kondisi ini membuktikan pula bahwa pemilih tidak peduli produk yang ditawarkan calon, pemilih mengandalkan emosi semata, dan mengabaikan rasionalitas. Akibat hoaks, timbul dorongan dikalangan pemilih untuk mencaci maki, dan memfitnah calon, padahal kedua calon adalah putra terbaik bangsa bahkan salah satu calon masih menjabat Presiden RI yang nota bene jabatan tersebut harus dihormati!

Jika pemilih masih mempercayai hoaks, jika pemilih terus mempertahankan emosi, jika pemilih terus berpolemik dengan SARA, dan jika pada saatnya calon yang di jagokan pemilih tersebut “kalah”, maka dikhawaritkan akan timbul suatu kondisi yang tidak kita inginkan. Belajar dari pengalaman masa lalu, jika ada anak suatu negeri melakukan tindakan irasional, tindakan merusak dan menciptakan instabilitas terhadap kondisi perekonomian negerinya, maka negeri tersebut akan mengalami kerugian. Seperti yang terjadi di negeri ini beberapa tahun lalu, kita tidak ingin krisis ekonomi mengusik kembali, karena akan terjadi kelangkaan barang, depresiasi, inflasi, PHK, dan pada akhirnya pendapatan negara turun.

Sebagai langkah antisipasi, calon tidak boleh memancing emosi, dan tidak boleh menciptakan blunder, pihak yang berwenang (KPU/BAWASLU) harus bergerak cepat menindak kampanye hitam dan hoaks tersebut, PEMUKA AGAMA (alim ulama) harus gencar mengajak umatnya pada ajaran  yang benar, dan cendikiawan harus memberi informasi/ilmu yang cerdas. Mohon  jangan meresahkan umat,  mohon jangan menggiring opini yang salah, dan mohon jangan memancing emosi antar pendukung,

Ini penting untuk diperhatikan, agar pilpres yang menelan dana miliaran bahkan triliunan rupiah tersebut membuahkan hasil optimal, pilpres berjalan lancar, pemilu sukses, DEMOKRASI tetap terjaga, NKRI semakin kokoh dan perekonomian tetap stabil.

Untuk itu, sebelum terlambat, pemilih hendaknya dapat  mengendalikan emosi dan mengedepankan unsur rasionalitas dalam semua tindakan, agar anak negeri ini yang terkenal santun tetap terjaga. Kemudian masing-masing pemeluk  agama harus menjunjung tinggi  ajaran-nya, yakni ajaran mengajak menebar kebaikan dan memerangi kemunkaran. Tidak ada agama mengajak umatnya melakukan tindakan tercela; menghasut, mencemooh, membenci, dan memfitnah.

Kemudian dari sisi calon, memang sudah tugas calon untuk membius pemilih dengan orasi memukau dihadapan publik, tapi calon harus menyadari juga bahwa ia harus menyampaikan program yang rasional dengan landasan data dan fakta serta memungkinkan untuk dapat direalisasikan.

Misalnya, bila calon akan mengusung program swasembada pangan, maka calon harus dapat meyakinkan bahwa program tersebut dapat mereka wujudkan. Siswono Yudo Husodo mensitir bahwa lahan pertanian kita saat ini masih minim, dengan luas hanya 7,78 juta hektar atau 358,5 meter persegi per kapita (Kontan.co.id, 20 September 2017). Belum lagi adanya alih fungsi lahan, dan petani beralih bekerja di sektor industri. Kemudian  penduduk selaku konsumen terus bertambah. Bappenas memperoyeksi pada tahun 2018 jumlah penduduk mencapai 265 juta jiwa.

Artinya, jika calon ingin mewujudkan swasemba pangan berarti calon harus meyakinkan bahwa lahan masih bisa disediakan, sektor pertanian masih dapat dimaksimalkan, kehidupan petani akan dijamin, dan produksi harus berimbang dengan jumlah penduduk yang terus bertambah.

Kemudian, bila calon akan mengusung program peningkatan kualitas SDM, maka yang harus dikaji  bagaimana IPM yang telah tercipta dan variabel yang terkait dengan IPM tersebut.  BPS mensitir bahwa IPM kita pada tahun 2017 memang menunjukkan angka menggembirakan yakni mencapai 70,81. Begitu juga dengan variabel yang terkait, indeks harapan hidup, indeks hidup layak, indeks pendidikan, terus nampaknya mengalami perbaikan.

Artinya, jika calon akan meningkatkan kualitas SDM atau IPM berarti calon harus meyakinkan pemilih bahwa angka IPM dan variabel terkait tersebut akan terus ditingkatkan, dengan jalan meningkatkan sarana-prasarana pendidikan dan mereformasi sistem pendidikan, melengkapi sarana-prasarana kesehatan, dan memperbaiki kesejahteraan SDM.

Jika penjelasan tersebut tidak disajikan calon, berarti program yang ditawarkan tersebut tidak bisa diukur (unobservable). Untuk itu bagi calon, jualah produk lengkap dengan atribut (penjelasan) dan rasional, percayalah masih banyak pemilih yang memperhatikan hal ini, jangan lagi menjual  hoaks, karena akan menyesatkan. Bagi  pemilih yang masih belum menentukan pilihan, bagi pemilih yang masih bimbang, dan bagi pemilih yang akan merubah pilihannya, mari mempelajari produk lengkap dengan atribut yang ditawarkan masing-masing calon dan menilai calon secara utuh.

Gunakanlah dasar penilaian yang rasional!. Hindari emosi yang berlebihan!, hindari tindakan yang tidak mencerminkan jati diri anak bangsa!. Jangan termakan hoaks!. Jangan memainkan agama, karena agama itu suci!. Mari kita bergandeng tangan, menentukan pilihan sesuai dengan pertimbangan rasionalitas kita, jadikan beda pilihan sebagai rahmat dan jaga stabilitas perekonomian negeri ini karena jalan masih panjang dalam mewujudkan negeri yang baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur. Selamat berjuang!!!

Redaksi Desapedia