25.8 C
Jakarta
Kamis, 29 Juli 2021
Beranda Nasional Sekjen APDESI Ungkap Kendala dan Kebingungan Kades dalam Pendataan...

Sekjen APDESI Ungkap Kendala dan Kebingungan Kades dalam Pendataan Warga Miskin Terdampak Covid–19

Rekomendasi

Lainnya

    DPN PPDI Beri Catatan soal RUU Desa

    Jakarta, desapedia.id - Komite I Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) tengah menyempurnakan RUU tentang Perubahan Kedua UU...

    Masa Jabatan Kades Dikembalikan 8–10 Tahun Tanpa Batasan Periodisasi, Ini Usulan Lengkap Papdesi Soal Revisi UU Desa

    Jakarta, desapedia.id – Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Perkumpulan Aparatur Pemerintah Desa seluruh Indonesia (DPP Papdesi), Hj. Wargiyati memberikan...

    Banyak Perangkat Desa Diberhentikan Semena–Mena oleh Kades, DPN PPDI Desak DPD RI Bertindak

    Jakarta, desapedia.id – Komite I Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) secara virtual...

    Jakarta, desapedia.id – pemerintah melalui Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) telah mengeluarkan kebijakan melalui Permendes nomor 6 tahun 2020 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa tahun 2020 yang difokuskan pada penanggulangan Covid – 19, Padat Karya Tunai Desa (PKTD) sebagai upaya pemulihan ekonomi warga desa pasca Covid–19 dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa.

    Kementerian Keuangan kemudian juga telah menyesuaikan dengan melakukan perubahan Peraturan Menteri Keuangan, yaitu Peraturan Menteri Keuangan nomor 40/PMK.07/2020 tentang Perubahan atar Peraturan Menteri Keuangan nomor 205/PMK.07/2019 tentang Pengelolaan Dana Desa.

    Menurut Sekretaris Jenderal DPP APDESI yang juga Kepala Desa Sidorejo, Kedungtuban, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Agung Heri Susanto, saat ini banyak masukan dari Kades se Indonesia kepada APDESI dalam mensikapi beberapa regulasi tentang ketentuan refocusing anggaran APBDes dalam penanganan terdampak Covid 19, terutama untuk bantuan BLT Desa.

    “Para Kades ini sebagai lini terdepan menghadapi masyarakat yang terdampak , dilapangan beberapa Kades mengalami kendala dan kebingungan pendataan”, ujarnya.

    Agung menjelaskan, hal ini dikarenakan jaring pengaman sosial yang bersumber dari Dana Desa yang diatur di Permendes 6/2020 maupun di PMK 40/2020 masih menggunakan dasar Kemiskinan normal,  bukan spesifik untuk penanganan warga desa terdampak covid 19 yang layak dibantu.

    Agung menerangkan bantuan jaring pengaman sosial ini kemudian dikunci dengan harus berupa BLT otomatis dengan nilai Rp. 600 ribu selama  3 bulan, yaitu Rp. 1,8 jt per keluarga penerima. Dengan aturan ini, tegas Agung, Pemdes tidak bisa berekspresi untuk memberi bantuan yang tepat sesuai dengan situasi kondisi sosial desa yang berbeda antar wilayah desa di Indonesia. Diskresi ini dibutuhkan oleh para Kades mengingat pihaknya tidak tahu dampak sosial covid 19 ini akan sampai kapan.

    “Harapan kami dari DPP APDESI  agar regulasi Pemerintah Pusat memberi ruang yang longgar kepada Desa sesuai dengan kearifan lokal untuk menentukan langkah yang tepat dalam menentukan jaring pengaman sosial warga desa baik berupa pilihan Jenis bantuan bisa berupa BLT, BPNT, atau bantuan sosial lain dan nilai atau besar bantuannya yang dibahas bersama melalui musyawarah desa (musdes) sebagai kekuatan tertinggi pengambilan keputusan di tingkat Desa dan di tuangkan dalam Perdes maupun Perkades” jelasnya.

    Agung menambahkan, agar Kades dikemudian hari tidak bermasalah dengan keputusan tersebut maka pihaknya mendesa kementrian terkait baik Kemendagri, Kemendesa PDTT,  maupun Kemenkeu mengeluarkan peraturan yang bisa digunakan sebagai jaminan kepastian hukum di tingkat Desa.

    “Begini, skenario penyaluran jaring pengaman sosial dari Dana Desa kepada masyarakat semestinya dilakukan di tahap terakhir tatkala bantuan sosial dari Pusat, Provinsi, Kabupaten  yang sesuai dengan DTKS Kemensos telah cair masuk ke Desa. Tujuannya adalah agar tidak terjadi tumpang tindih penerimaan bantuan yang bisa saja dobel,  disamping itu tatkala bantuan dari data DTKS ternyata tidak cukup mengcover semua calon penerima di desa maka Dana Desa menjadi logistik terakhir bagi Desa untuk diberikan kepada warga yang berhak terdampak covid 19”, terang Agung. (Red)

    Belangganan Newsletter

    - Advertisement -Kontak Untuk Beriklan Di Desapedia
    Desa Siaga Corona Covid-19

    Covid-19

    Indonesia
    3,287,727
    Kasus Positif
    Updated on 29 July 2021 - 03:16 WIB 03:16 WIB

    Indeks Berita

    Memperkuat Akses Permodalan Harus Diikuti Penguatan SDM dan Tata...

    Jakarta, desapedia.id – Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke–43, Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Provinsi Jawa Timur...

    Di Talkshow Kades Iwan, Ketua Komite I DPD RI...

    Jakarta, desapedia.id – Talkshow Kajian Desa bareng Iwan atau Kades Iwan yang tayang secara langsung di TV Desa setiap selasa pukul 18.30 WIB, pada...

    Kemampuan Digitalisasi BUMDesa Akan Terus Ditingkatkan

    Jakarta, desapedia.id – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar menghadiri acara puncak Gerakan Bangga Buatan Indonesia yang bertajuk...

    Kecam Tuduhan Mensos Risma, Ini Penjelasan Apdesi  

    Jakarta, desapedia.id – Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Pemerintah Desa seluruh Indonesia (DPP APDESI), Agung Heri Susanto memberikan tanggapannya atas pemberitaan di berbagai...

    Papdesi Tuntut Mensos Risma Minta Maaf dan Cabut Pernyataan

    Jakarta, desapedia.id – Dalam pernyataannya yang dilansir sejumlah media massa, Menteri Sosial Tri Rismaharini mengatakan, Kementerian Sosial menerima banyak pengaduan soal penyaluran bantuan sosial...

    Berita Terkait