26.9 C
Jakarta
Jumat, 15 Oktober 2021
BerandaEnsiklopediaMengenal Kehidupan Sederhana dan Penuh Harmoni Ala Suku Baduy

Mengenal Kehidupan Sederhana dan Penuh Harmoni Ala Suku Baduy

Rekomendasi

Lainnya

    desapedia.id-Kemajuan zaman dan perkembangan teknologi secara nggak langsung membuat paham hidup sederhana dan cinta lingkungan mulai jarang terlihat di kehidupan masyarakat kota saat ini.

    Kenyataan itu sangat bertolak belakang dengan pemandangan sehari-hari di Desa Kanekes, tempat Suku Baduy tinggal.

    Semua pasti pernah mendengar Suku Baduy, Suku yang dikenal sebagai salah satu suku di Indonesia yang masih menjaga tradisi nenek moyang dan hidup bersahabat dengan alam. Kali ini kami mengajak Anda mengenal Baduy lebih dalam.

    Mengenal Suku Baduy

    Suku Baduy adalah salah satu suku adat di Indonesia yang menetap di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwi Damar, Kabupaten Lebak, Banten. Letaknya sekitar 40 km dari pusat kota Rangkasbitung. Desa Kanekes ini sudah ditetapkan sebagai salah satu desa wisata, tidak heran kalau desa ini sering dikunjungi tamu-tamu baik dari kalangan pelajar, pekerja, dan lain sebagainya.

    Untuk sampai ke perkampungan adat Baduy, kita harus berjalan sekitar 12 km melewati perkebunan dan menyeberangi sungai yang ada di balik perbukitan. Siapapun yang akan melakukan perjalanan menjelajah Baduy, rombongan selalu didampingi guide yang merupakan bagian dari Suku Baduy. Perlu diketahui, Suku Baduy dibagi jadi dua, yaitu Baduy Luar dan Baduy Dalam.

    Selalu menjunjung adat istiadat

    Baduy Luar dan Baduy Dalam memang beda, tapi mereka sama-sama selalu menjunjung tinggi adat istiadat.

    Baduy Luar dan Baduy Dalam punya peraturan adat yang berbeda. Salah satu contohnya, masyarakat Baduy Luar diperbolehkan memakai pakaian modern seperti kaos oblong atau celana jeans, sedangkan Baduy Dalam diwajibkan memakai pakaian adat berwarna putih. Meskipun mereka punya aturan yang berbeda, dua golongan ini sama-sama menjunjung tinggi adat istiadat.

    Meski banyak berinteraksi dengan dunia luar, sampai saat ini Baduy Luar dan Baduy Dalam masih memegang teguh adat istiadat. Para tamu yang berkunjung ke Baduy hanya diperbolehkan membawa kamera sampai perkampungan Baduy Luar. Masyarakat Baduy Dalam mengharamkan kamera, handhone, dan alat elektronik lainnya masuk ke wilayah mereka.

    Suku Baduy Anti Teknologi

    Suku Baduy Dalam memang anti teknologi, tapi bukan berarti mereka selalu menutup diri dari dunia luar.

    Suku Baduy memang memegang teguh ajaran leluhur untuk tidak berhubungan dengan teknologi. Mereka tidak di izinkan untuk belajar karena ditakutkan akan pintar. Kalau pinter, nanti keblinger (kebablasan). Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mereka bertani dan berladang. Setiap musim panen datang, mereka Seba (berkunjung) ke kantor Gubernur Banten di Serang untuk menyerahkan hasil alam sekaligus silaturahmi.

    Kalau pekerjaan di kebun tidak banyak, orang Baduy juga sering pergi ke kota besar seperti Serang, Jakarta, atau Bogor untuk menjual madu dan hasil alam lainnya. Uniknya, mereka mencapai tempat tujuan itu dengan berjalan kaki tanpa alas. Biasanya mereka pergi secara rombongan antara 3-5 orang. Hasil penjualan itu biasa mereka pakai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di kampung.

    Baduy Tempat yang Menyatu Dengan Alam

    Lupakan handphone dan rutinitas kehidupan kota. Baduy adalah tempat yang pas untuk bersatu dengan alam.

    Kalau Anda berkesempatan mengunjungi Baduy, usahakan untuk memaksimalkan waktu kunjungan Anda untuk belajar dari keseharian penduduk setempat. Lupakan handphone dan rutinitas kota. Cobalah untuk menatap alam sekitar, menikmati udara segar, dan suara-suara burung yang bernyanyi riang. Di Baduy sinyal handphone hampir tidak ada, listrik pun belum mengalir ke sana.

    Masyarakat Baduy sangat bergantung dengan alam. Mereka menjadikan sungai sebagai sumber kehidupan utama seperti untuk mandi, mencuci. Untuk penerangan di malam hari, masyarakat Baduy biasa menggunakan lampu minyak/obor. Sedangkan buat kebutuhan memasak, mereka masak dengan menggunakan tungku yang terbuat dari batu. Masyarakat mengenalnya dengan sebutan hawu.

    Banyak Pelajaran yang Dapat Diambil

    Banyak pelajaran hidup yang bisa diambil dari Baduy. Mulai dari kesederhanaan sampai cinta lingkungan.

    Salah satu pelajaran penting yang bisa kita ambil dari Suku Baduy adalah hidup sederhana dan cinta lingkungan. Sejak awal, leluhur Suku Baduy memang mengharuskan keturunannya untuk hidup berdampingan dengan alam. Mereka hidup dengan bahan-bahan yang ramah lingkungan. Salah satu contohnya, mereka tidak memakai pasta gigi atau sampo saat mandi di sungai.

    Kalau dilihat lebih jauh, ternyata peraturan dan larangan yang dibuat dalam kehidupan mereka memang bertujuan untuk menjaga keseimbangan alam. Mereka sangat menyadari bahwa kehidupan mereka sangat bergantung pada alam. Kalau alam rusak, kehidupan mereka pun akan terancam. Begitu juga dengan kelangsungan hidup anak, cucu, dan keturunan mereka kelak.

    Masa Depan Suku Baduy Terancam

    Tapi sayangnya, anak-anak Baduy Dalam suka nonton TV di luar Baduy. Dan mereka sangat mengidolakan Aliando, tokoh di Ganteng-ganteng Serigala, masa depan Baduy terancam

    Meskipun Suku Baduy Dalam masih bisa dikatakan punya kearifan lokal namun ternyata anak-anak mereka sudah sedikit terkena gejala penggunaan teknologi. Kita berharap saja agar keaslian Suku Baduy tetap lestari dan harmoni. Mari belajar tentang mencintai alam dan pelestarian lingkungan dari Baduy.

     

    Baca Juga :

    Musyawarah Desa

    Otonomi Daerah

     

    Belangganan Newsletter

    - Advertisement -Kontak Untuk Beriklan Di Desapedia
    Desa Siaga Corona Covid-19

    Covid-19

    Indonesia
    4,232,099
    Kasus Positif
    Updated on 15 October 2021 - 02:12 WIB 02:12 WIB

    Indeks Berita

    Berita Terkait