Desapedia

Karang Taruna, OKP, dan Ormas di Kecamatan Setu, Bekasi: “Pemuda Setu Berani Bersatu”

Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat
Deklarasi "Pemuda Setu Berani Bersatu" (desapedia.id)

Selain ajang silaturahmi, deklarasi dilakukan sebagai wujud bakti pemuda desa untuk kemajuan masyarakat di Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Karang Taruna Kecamatan Setu bersama Organisasi Kepemudaan (OKP) dan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) se-Kecamatan Setu mendeklarasikan  “Pemuda Setu Berani Bersatu”.

Kegiatan itu dipusatkan di Tugu Duren, samping Kantor Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Sabtu sore (2/6/2018). Dalam deklarasi ini, Camat Setu, Surya Wijaya, dan Kepala Desa Lubang Buaya, Bosih Awaludin juga turut hadir.

Kegiatan tersebut juga diisi dengan sesi diskusi yang cukup menarik. Menurut Iwan, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Karang Taruna Kecamatan Setu, gerakan “Pemuda Setu Berani Bersatu” lahir dari berbagai kegelisahan. Dia bilang, saat ini generasi muda semakin jauh dari nilai budaya ketimuran.

“Selain itu, buah duren yang jadi ikon Kecamatan Setu kini pohonnya sudah menghilang. Bisa jadi besok-besok di Setu tidak ada lagi pohon duku, manggis dan rambutan,” papar Iwan membuka sesi diskusi.

Tak kalah penting, kata Iwan, harus dipikirkan bagaimana cara agar Pasar Setu dan Lapangan Setu kembali ke wilayah Kecamatan Setu.

Untuk diketahui, Pasar Setu dan Lapangan Setu secara administratif masuk ke wilayah Desa Telajung. Secara historis, dulu Desa Telajung merupakan bagian dari Kecamatan Setu. Tak heran, pasar dan lapangan tersebut di beri nama Pasar Setu dan Lapangan Setu.

Seiring terjadinya pemekaran wilayah di Kabupaten Bekasi, membuat Desa Telajung saat ini masuk ke wilayah Kecamatan Cikarang Barat. Desa lainnya yang mengalami nasib serupa yaitu Desa Cikedokan. Jadi, secara historis Kecamatan Setu telah kehilangan dua desanya,  dan saat ini hanya memiliki 11 desa.

Menurut Ketua Karang Taruna Kecamatan Setu, Acep Juandi, baik Pasar maupun Lapangan Setu merupakan jati diri masyarakat Setu. “Ibarat Bung Karno yang khas dengan peci hitamnya, pun begitu dengan Pasar  dan Lapangan Setu yang merupakan jati diri masyarakat Setu,” ungkap Leo, begitu sapaan akrabnya.

Dari sisi ekonomi, masyarakat Setu merupakan penyumbang terbesar untuk Pasar Setu.  Sebab, mayoritas pembeli di pasar ini adalah masyarakat Setu. “Tapi kontribusi pendapatannya (pendapatan asli desa/PADes) bukan untuk warga Setu,” ujar Leo.

Tak jauh berbeda dengan Lapangan Setu. Leo bilang, “Jika terjadi konflik sosial di Lapangan Setu, tetap yang sibuk orang Setu juga. Masa kalau ada keributan kita ngeliatin doang. Kan gak mungkin.”

Karena itu, kata Leo, sebagai bakti pemuda Setu, pihaknya mendorong agar dua aset tersebut kembali lagi dalam pangkuan Kecamatan Setu. “Perlu mindset (pemikiran) dan tujuan yang sama untuk mencapai itu,” kata Leo dihadapan tokoh pemuda lainnya.

Di samping itu, Leo juga menyinggung masalah tradisi lokal Setu yang kian tergerus arus modernisasi. “Dulu waktu kita kecil mainnya kleci, tapi anak-anak sekarang mainnya sudah game di handphone. Dulu kita sangat menghargai guru, ustadz, kyai, tapi penghargaan itu semakin tergeser karena perubahan zaman,” ujarnya.

Sementara itu, Sarif Marhaendi, Sekjen Karang Taruna Desa Burangkeng, mengatakan, diperlukan kerjasama dan kerja keras untuk dapat melestarikan tanaman pertanian yang jadi produk unggulan Setu. “Sekarang hanya ada tugu durennya saja, tapi pohon durennya sudah langka,” singgung Sarif.

Karena itu dia mengusulkan agar masyarakat mau memanfaatkan tanah kas desa (TKD). “Setiap desa ada TKD-nya. Kita tanami tanah itu minimal seratus pohon duren,” usul Sarif.

Dia juga mendukung agar Pasar dan Lapangan Setu bisa kembali lagi menjadi wilayah Kecamatan Setu. Tapi Sarif menyayangkan tidak ada anggota DPRD Kabupaten Bekasi yang berasal dari masyarakat Setu. “Tanpa kita punya perwakilan di parlemen, hal itu hanya akan jadi angan-angan saja,” ucapnya.

Adapun Hasan Basri, perwakilan Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Setu, mengatakan, di Kecamatan Setu masih banyak lahan tidur yang biasanya sudah dibeli oleh ‘orang kota’. “Sayang kalau tidak bisa dimanfaatkan, padahal masih produktif. Kita kerjasama dengan pemilik lahan agar bisa kita tanami,” ujarnya.

Atau, Hasan Basri menyarankan, agar lahan tidur itu bisa dimanfaatkan untuk kepentingan wisata lokal. “Contohnya seperti Taman Limo di Cikarang Barat. Dengan demikian nantinya bisa mengangkat ekonomi masyarakat Setu,” paparnya.

Hal senada diungkapkan Mandra Putra, perwakilan Ormas OI (Orang Indonesia) Kabupaten Bekasi. Mandra atau yang akrab disapa Gepeng, mengatakan, pihaknya siap melakukan penanaman pohon di Kecamatan Setu.

“Kami ada kerjasama dengan Dinas LH (Lingkungan Hidup) Kabupaten Bekasi. Jadi kita bisa kerjasama dengan LH untuk menanam duren, duku, tanaman lainnya,” kata Gepeng.

Sementara itu, Ahmad Fatoni, perwakilan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kecamatan Setu, mengatakan, pentingnya persatuan para pemuda di Kecamatan Setu.

“Sebenarnya sudah bersatu, tapi masih terkotak-kotak oleh organisasinya masing-masing. Karena itu diperlukan persatuan yang lintas organisasi,” ujarnya.

Hal serupa juga diungkapkan, Muhammad Tizi, perwakilan Ormas Pemuda Pancasila Kecamatan Setu. “Kumpulnya kita di sini menjadi ajang silaturahmi dan tukar pikiran,” ucapnya. “Jangan hanya di awalnya saja, tapi bubar di tengah jalan. Kita harus istiqomah merapatkan barisan,” sambung Tizi.

Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat
Sesi Diskusi “Pemuda Setu Berani Bersatu” (desapedia.id)

Adapun Endam Bachtiar, tokoh pengayom pemuda Setu, sekaligus Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Setu, memberi apresiasi atas kegiatan yang diinisiasi oleh Karang Taruna Kecamatan Setu tersebut.

“Bung Karno membutuhkan 10 pemuda untuk mengguncang dunia. Dan di sini kalau pimpinan pemuda dari semua elemen kumpul dan bersatu akan beres semua masalah. Tapi semuanya harus punya komitmen untuk memajukan Kecamatan Setu,” pesan Endam.

Apresiasi juga diberikan Ardi, tokoh pengayom pemuda Setu lainnya. “Kualitas pemuda sekarang lebih maju dari pemuda zaman dulu. Ini menunjukkan SDM masyarakat Setu sudah semakin baik,” ungkapnya.

Di samping itu, dia menceritakan, di era 80-90 an, Kecamatan Setu terkenal dengan berbagai produk unggulan pertanian. “Bahkan orang Surabaya dulu kalau mau beli rambutan, duren, manggis, duku ada yang ke sini,” katanya.

Dia juga berpesan agar para pemuda bisa menjadi aktor dalam sebuah perubahan.

Sementara itu, tokoh pengayom pemuda lainnya, H. Toto Iskandar, menegaskan kesiapannya “menggendong” pemuda Setu untuk membangun Kecamatan Setu. “Rumah saya terbuka lebar untuk masyarakat Setu,” kata H. Toto, tokoh yang telah berkiprah dan berperan hingga level nasional ini.

Dia berpesan, “Pemuda Setu harus bangkit. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang, kapan lagi.”

Singkatnya, diskusi  “Pemuda Setu Berani Bersatu” tersebut melahirkan kesepakatan untuk membentuk aliansi Ormas dan OKP yang ada di Kecamatan Setu.

“Agenda utamanya adalah bagaimana Pasar dan Lapangan Setu bisa kembali lagi ke pangkuan Kecamatan Setu,” tutup Iwan, Sekjen Karang Taruna Kecamatan Setu, mengakhiri diskusi. (Nur Pulo/Red)

Redaksi Desapedia