Desapedia

Jokowi “Bapak Rakyat” Sejati

Dr. Sutoro Eko Yunanto, M.Si (kiri) bersama Presiden RI Joko Widodo (dok)

Presiden Joko Widodo dalam tempo 4 tahun, telah berjuang keras melakukan “cuci piring” yang kotor dan berantakan bekas pesta besar, sekaligus memberesi banyak pekerjaan rumah yang mangkrak. Namun Presiden masih sulit melakukan perubahan fundamental atas sejuta masalah berat yang diwariskan oleh sejarah 400 tahun.

Selama 4 tahun Presiden Jokowi memperoleh pujian dan dukungan, namun juga dapat kritik, harapan, komplain, protes, bahkan umpatan dan caci maki.

Beliau hadir sebagai pemimpin yang optimis dalam mengelola kritik, harapan dan caci maki dengan tenang dan dewasa. Kadang beliau hadir sebagai politisi yang baku klaim, “klaim berbalas klaim”, untuk melawan para lawan politiknya.

Semua ini hal yang lumrah, sebab politik merupakan arena bagi warga untuk bersuara, sekaligus juga panggung untuk adu kekuatan dan medan untuk bertarung. Skeptisisme juga penting dan wajar sebagai kekuatan pengimbang agar optimisme tidak terjebak dalam cerita sukses yang semu.

Saya tetap berjuang mendukung Jokowi secara bermartabat, tanpa harus menjadi cebong, tanpa harus mencaci-maki Prabowo-Sandi. Saya sangat hormat kepada Prabowo-Sandi, sebagai dua anak bangsa yang berjuang gigih untuk kemenangan Indonesia.

Namun mendukung Jokowi bukan berarti harus menjilat dan memuji, sebab keduanya bermakna memangku, dan memangku — dalam tradisi Jawa — berarti membunuh.

Saya berharap Jokowi 2019-2024, yang punya modalitas politik kuat, dapat melakukan perubahan lebih fundamental. Setidaknya beliau bisa bekerja secara ideologis meletakkan batu landasan yang kokoh untuk mengubah “negara lama” warisan panjang 400 tahun, menjadi “negara baru” yang dimandatkan konstitusi dan 20 tahun reformasi.

Saya tidak ingin Jokowi hanya dikenang sebagai “bapak infrastruktur” tetapi sebagai “bapak rakyat” yang sejati. Saya juga berharap Jokowi tidak hanya mengukir cerita sukses tentang “proyek Dana Desa”, tetapi jauh dari itu, memperkuat “desa baru” yang bersendikan: ketahanan, kemandirian, kerakyatan, kemakmuran dan kemajuan.

*) Opini ini adalah pandangan dan tanggung jawab penulis, bukan merupakan pandangan redaksi

Dr. Sutoro Eko

Ketua Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa - APMD