33.1 C
Jakarta
Sabtu, 12 Juni 2021
Beranda Opini Dari Social Distancing Sampai dan Titik Hening

Dari Social Distancing Sampai dan Titik Hening

“Kita semua membayar ongkos bagi kegilaan kita untuk bergegas, desakan kita yang membabi buta, kehidupan kita yang terburu-buru” ~ Jonathon Lazear

Kang Abi
Kang Abi
Penggagas dan Fasilitator Komunitas Duduk Diam Meditasi

Rekomendasi

Lainnya

    UU Nomor 2 Tahun 2020 Mencabut Dana Desa?

    Tarik napas sekuatnya dan ucapkan judul peraturan ini: UU No. 2 Tahun 2020 tentang Penetapan Perppu No. 1/2020 tentang...

    Pemerintah Harus Menerbitkan Kembali Permendagri No. 33 Tahun 2010 tentang Pedoman Pengelolaan Sampah, Segera!

    Buruknya pelayanan persampahan di kabupaten dan kota di Indonesia sudah menjadi perihal umum. Sampah-sampah yang ada di perkotaan di...

    Penggunaan Google Classroom dalam Pembelajaran Online

    Oleh: Rahayu Afista Hardianti Tidak ada seorang pun yang menduga dan mampu memprediksi bahwa tahun 2020 akan terjadi pandemi Covid-19...

    Saat ini, kita hidup dalam masyarakat yang serba terburu-buru (Manic Society), serba segera, serba cepat, serba ringkas juga tak segan potong kompas.

    Ini bukan saja soal ritme dan aktifitas motorik yang ekstrem atau dorongan yang sangat kuat untuk bertindak, tetapi bahwa ini sudah menjadi tata nilai, acuan dalam mengukur kemajuan, pencapaian, kesuksesan dan keberadaban kehidupan kita hari ini.

    Yang khas dan kental dari karakter masyarakat serba terburu-buru ini adalah ketidaksabarannya. Robert Holden pendiri The Happiness Project melukiskan karakter ini dengan miris:

    “Jika sebuah hubungan tidak berkembang dengan cepat, kita meningalkannya. Jika seseorang tidak bisa bicara cukup ringkas, kita tutup telinga.”

    “Jika seseorang tidak bisa menjelaskan maksudnya dengan segera, kita jelaskan maksud mereka untuk mereka.”

    “Jika sebuah hubungan terantuk masalah, sulit dipercaya bahwa hubungan itu bernilai.”

    “Kita tidak nyaman dengan jeda dalam percakapan. Kita sering memotong pembicaraan untuk tiba di akhir lebih cepat, kita perlu terus bergerak”
    – Robert Holden, Success Intelligence

    Ketidaksabaran sering kali melahirkan kecerobohan dan kekonyolan yang sangat merugikan orang lain.

    Sebut saja satu kasus bagaimana seseorang asal jepret dan posting saat melihat seorang bapak di halaman pusat perbelanjaan membawa beberapa troli belanjaan, menyusul diumumkannya 2 pasien positif COVID-19.

    Belakangan muncul di sosial media keberatan dari pihak keluarga si bapak atas gambar yang kadung viral itu, yang menjelaskan bahwa orang tuanya adalah pedagang kelontong yang rutin sedemikian jumlah belanja untuk tokonya, bukan sedang terlibat panic buying sebagaimana yang ingin dikesankan.

    Secara psikologis, prilaku dalam masyarakat ini di kelompokan dalam prilaku “Tipe H”:

    Hurried (bergegas). Prilaku yang selalu bergegas, seolah hidup sudah di tepian umur hidupnya. Hostile (ganas). Prilaku yang ganas tak kenal belas kasih. Dalam konteks bersaing, baginya orang lain adalah ancaman dari pencapaiannya, dan ini dalil untuk menyingkirkan segera pesaingnya. Humourless (gersang).

    Prilaku yang gak asik, garing dalam relasi sosial, penuh ketegangan dalam menghadapi setiap persoalan, sensitif (untuk menyebut gampang terpancing marah).

    Hari ini, kita terkondisi untuk segala harus segera dicapai dipenuhi dan diselesaikan. Kita terdesak oleh tuntutan pribadi dan lingkungan, sampai tujuan hakiki justru diabaikan tapi yang nisbi diperjuangkan.

    Kehidupan yang serba buru-buru ini adalah kehidupan yang mengajak kita untuk meninggalkan ‘di sini’ dan ‘kini’, lalu berlari dari apa adanya (proses) menuju ‘ke sana’, mengejar hasil akhirnya.

    Rasa terdesaknya mengalihkan perhatian dari yang sedang dikerjakannya, karena pikirannya sudah “melompat”; “mengerjakan” apa yang berikutnya. Begitu terburu-buru ketika sejatinya tidak ada apapun yang memburu-buru, kecuali kesadarannya sendiri yang tidak hadir dalam momen saat itu.

    Kita tidak bisa mengharapkan satu kesetiaan hubungan dan loyalitas dalam masyarakat seperti ini, karena pikiran liar jelalatan, alih-alih terlibat dalam gairah total dengan yang tengah ada bersamanya—mencari yang lebih, begitu pembenarannya.

    Kang Abi
    Kang Abi
    Penggagas dan Fasilitator Komunitas Duduk Diam Meditasi

    Belangganan Newsletter

    - Advertisement -Kontak Untuk Beriklan Di Desapedia
    - Advertisement -Desa Siaga Corona Covid-19

    Covid-19

    Indonesia
    1,894,025
    Kasus Positif
    Updated on 12 June 2021 - 13:36 WIB 13:36 WIB

    Terpopuler

    Meneropong Masa Depan NU dalam Pusaran Kekuasaan

    Dalam hitungan hari, tepatnya 20 Oktober 2019, bangsa Indonesia akan memiliki Presiden dan Wakil Presiden baru, pasangan Ir. Joko...

    Negara yang Mengubah, Merusak, dan Menindas Desa

    "Kami harus menghancurkan desa dengan tujuan untuk menyelamatkannya,” demikian ungkap tentara Amerika ketika melakukan serangan terhadap desa-desa di Vietnam (New York Times, 8 February...

    Kepiluan Rakyat dan ke Mana Perginya Balai Mediasi Desa?

    Ini kisah memilukan dan jeritan rakyat kecil tentang keadilan yang kesekian kalinya. Kali ini menimpa kakek Samirin berumur 69 tahun yang masih bekerja keras untuk...

    Komunitas Malinau Milenial Mandiri (M3) Siap Mendongkrak Literasi ...

    Penulis : Lisa, Pegiat Literasi Kalimantan Utara, Tinggal di Tarakan Menurut Elizabeth Sulzby “1986”, Literasi ialah kemampuan berbahasa yang dimiliki oleh seseorang dalam berkomunikasi “membaca, berbicara, menyimak dan...

    “Pegang Kepalanya”

    Sangat berkesan dengan dua kata ini, yang diimbuhi akhirannya di kata kedua. Dapat dibilang ini merupakan frase yang acap kali disampaikan oleh “kita-kita” baik...

    Berita Terkait