33.4 C
Jakarta
Jumat, 15 Mei 2020
Beranda Opini Dari Social Distancing Sampai dan Titik Hening

Dari Social Distancing Sampai dan Titik Hening

“Kita semua membayar ongkos bagi kegilaan kita untuk bergegas, desakan kita yang membabi buta, kehidupan kita yang terburu-buru” ~ Jonathon Lazear

Kang Abi
Kang Abi
Penggagas dan Fasilitator Komunitas Duduk Diam Meditasi

Rekomendasi

Lainnya

    Mendampingi Desa Menjadi Subyek Perubahan

    Pembinaan, pengawasan dan  pendampingan  desa menjadi tema penting yang perlu dibicarakan berkenaan dengan implementasi UU No. 6 tahun 2014...

    Dilema Pemerintah Dalam Penanganan Kasus Covid 19

    Virus Corona atau yang di kenal dengan istilah Covid-19, merupakan isu yang menjadi perbincangan Dunia Internasional. Bagaimana tidak, Virus...

    Akhir Bulan April Covid-19 Berakhir

    Musim kemarau adalah musim di daerah tropis yang dipengaruhi oleh sistem muson. Muson merupakan angin musiman yang bersifat periodik...

    Saat ini, kita hidup dalam masyarakat yang serba terburu-buru (Manic Society), serba segera, serba cepat, serba ringkas juga tak segan potong kompas.

    Ini bukan saja soal ritme dan aktifitas motorik yang ekstrem atau dorongan yang sangat kuat untuk bertindak, tetapi bahwa ini sudah menjadi tata nilai, acuan dalam mengukur kemajuan, pencapaian, kesuksesan dan keberadaban kehidupan kita hari ini.

    Yang khas dan kental dari karakter masyarakat serba terburu-buru ini adalah ketidaksabarannya. Robert Holden pendiri The Happiness Project melukiskan karakter ini dengan miris:

    “Jika sebuah hubungan tidak berkembang dengan cepat, kita meningalkannya. Jika seseorang tidak bisa bicara cukup ringkas, kita tutup telinga.”

    “Jika seseorang tidak bisa menjelaskan maksudnya dengan segera, kita jelaskan maksud mereka untuk mereka.”

    “Jika sebuah hubungan terantuk masalah, sulit dipercaya bahwa hubungan itu bernilai.”

    “Kita tidak nyaman dengan jeda dalam percakapan. Kita sering memotong pembicaraan untuk tiba di akhir lebih cepat, kita perlu terus bergerak”
    – Robert Holden, Success Intelligence

    Ketidaksabaran sering kali melahirkan kecerobohan dan kekonyolan yang sangat merugikan orang lain.

    Sebut saja satu kasus bagaimana seseorang asal jepret dan posting saat melihat seorang bapak di halaman pusat perbelanjaan membawa beberapa troli belanjaan, menyusul diumumkannya 2 pasien positif COVID-19.

    Belakangan muncul di sosial media keberatan dari pihak keluarga si bapak atas gambar yang kadung viral itu, yang menjelaskan bahwa orang tuanya adalah pedagang kelontong yang rutin sedemikian jumlah belanja untuk tokonya, bukan sedang terlibat panic buying sebagaimana yang ingin dikesankan.

    Secara psikologis, prilaku dalam masyarakat ini di kelompokan dalam prilaku “Tipe H”:

    Hurried (bergegas). Prilaku yang selalu bergegas, seolah hidup sudah di tepian umur hidupnya. Hostile (ganas). Prilaku yang ganas tak kenal belas kasih. Dalam konteks bersaing, baginya orang lain adalah ancaman dari pencapaiannya, dan ini dalil untuk menyingkirkan segera pesaingnya. Humourless (gersang).

    Prilaku yang gak asik, garing dalam relasi sosial, penuh ketegangan dalam menghadapi setiap persoalan, sensitif (untuk menyebut gampang terpancing marah).

    Hari ini, kita terkondisi untuk segala harus segera dicapai dipenuhi dan diselesaikan. Kita terdesak oleh tuntutan pribadi dan lingkungan, sampai tujuan hakiki justru diabaikan tapi yang nisbi diperjuangkan.

    Kehidupan yang serba buru-buru ini adalah kehidupan yang mengajak kita untuk meninggalkan ‘di sini’ dan ‘kini’, lalu berlari dari apa adanya (proses) menuju ‘ke sana’, mengejar hasil akhirnya.

    Rasa terdesaknya mengalihkan perhatian dari yang sedang dikerjakannya, karena pikirannya sudah “melompat”; “mengerjakan” apa yang berikutnya. Begitu terburu-buru ketika sejatinya tidak ada apapun yang memburu-buru, kecuali kesadarannya sendiri yang tidak hadir dalam momen saat itu.

    Kita tidak bisa mengharapkan satu kesetiaan hubungan dan loyalitas dalam masyarakat seperti ini, karena pikiran liar jelalatan, alih-alih terlibat dalam gairah total dengan yang tengah ada bersamanya—mencari yang lebih, begitu pembenarannya.

    Kang Abi
    Kang Abi
    Penggagas dan Fasilitator Komunitas Duduk Diam Meditasi

    Belangganan Newsletter

    - Advertisement -Kontak Untuk Beriklan Di Desapedia
    - Advertisement -Desa Siaga Corona Covid-19

    Covid-19

    Indonesia
    16,006
    Kasus Positif

    Terpopuler

    Menyiapkan Pengelolaan Persampahan yang Efisien, Produktif, Good Corporate/Financial Management...

    Pengelolaan PPK-Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) dalam pengelolaan persampahan pada dinas / SKPD di kabupaten dan kota di Indonesia...

    Peran BUMDes Sebagai Jaring Pengaman Ekonomi Desa Disaat Krisis...

    Jakarta, desapedia.id - Institute for Research and Empowerment (IRE) Yogyakarta melalui akun media sosialnya memberikan penjelasan tentang peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai...

    “Blunder Politik PKH (Program Keluarga Harapan)”

    Pada Juli 2018, pemerintahan Jokowi membusungkan dada atas "capaiannya" mampu menurunkan angka kemiskinan hingga di bawah 1 digit. Kebanggaan tersebut didasarkan atas perhitungan BPS (Badan...

    Badan Permusyawaratan Desa dan Demokrasi Asli

      Anom Surya Putra Ketua Umum Perkumpulan Jarkom Desa, Kini aktif sebagai Direktur Eksekutif Bakornas Desa   Dinamika implementasi UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa...

    Kontradiksi Kelembagaan dalam UU Desa

    Pelaksanaan sebuah undang-undang bukan hanya mencakup pemahaman akan content of law, tetapi juga membutuhkan structure of law. Menurut lensa structure of law, pelaksanaan undang-undang...

    Berita Terkait