Desapedia

Dari Jendela Nurani Menuju Bangkok

Jelajah Literasi Bangkok 2019. (Dok)

Oleh: Caroline

Penilaian sebagai penulis buku Jendela Nurani yang dilakukan secara independen oleh Media Guru telah membawa saya Caroline, pimpinan LKP Caroline Salon dan Spa, Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat ikut serta dalam rombongan Jelajah Literasi Bangkok 2019 bersama 9 penulis lainnya yang diselenggarakan selama 3 hari di kota Bangkok, Thailand.

Penetapan sebagai 10 penulis buku terbaik oleh Direktorat Pembinaan GTK PAUD dan Dikmas, Ditjen Guru Tenaga Kependidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan R.I merupakan suatu anugerah bagi saya dan tentu juga untuk 9 teman penulis lainnya seperti ibu Herin Ratna dari Yogyakarta, ibu Djuariningsih dari Bangka Belitung, ibu Kadek Restika Dewi dari Bali, ibu Neni Syarifatun dari Jakarta, ibu Tri Purnasari dari Kalimantan Selatan, ibu Sri Janji dari Semarang, ibu Rahmi Muliani dari Sumatera Barat, ibu Yuli Kurniati dari Lampung, ibu Wahyuningsih dari Kalimantan Timur.

Pertama saya mengucapkan Puji dan Syukur ke hadirat Tuhan karena anugerah ini dan rasa terimakasih kepada ibu Istiqomah dari team Media Guru yang ikut melakukan penilaian 152 buku karya penulis seluruh Indonesia dan telah memilih 10 penulis buku yang terbaik, Juga saya mengucapkan terimakasih yang sebesarnya kepada Bapak-bapak dan Ibu-ibu dari Direktorat Pembinaan GTK PAUD dan Dikmas yang telah memberikan fasilitas yang luar biasa kepada saya dan teman-teman penulis untuk dapat pergi ke Bangkok, Thailand bergabung bersama rombongan besar Media Guru dalam Jelajah Literasi Bangkok 2019, ini merupakan suatu pengalaman yang sangat berharga dan tidak akan terlupakan bagi saya.

Awal membaca surat pemberitahuan dari Direktorat melalui email saya merasa tidak percaya untuk kebenaran surat itu, maklum karena sekarang banyak beredar surat-surat pemberitahuan bermodus penipuan yang mengatasnamakan Instansi/Lembaga Pemerintah. Saya mencoba bertanya kepada teman lainnya melalui group WA Kelas PGTK PAUD dan Dikmas dan disarankan untuk melakukan konfirmasi dengan menghubungi salah satu ibu yang bertugas di Direktorat Pembinaan GTK PAUD dan Dikmas, dengan harap-harap cemas saya menghubungi ibu Emilda Lovisia dan merasakan surprise setelah beliau menyatakan bahwa surat ini benar adanya dan memberikan penjelasan bahwa segera mengirimkan Foto Paspor halaman yang berisi nama, pas foto dan nomor Paspor langsung via email ke Direktorat. Kali pertama saya mengabarkan berita gembira ini kepada suami selanjutnya kepada anak-anak saya. Walau mereka semua penasaran termasuk saya sendiri juga mempunyai pertanyaan: Koq bisa ya buku Jendela Nurani dan saya terpilih sebagai 10 orang penulis terbaik….???

Ternyata pertanyaan yang sama juga dirasakan oleh beberapa teman penulis yang saya hubungi via telepon dan kami segera mempersiapkan dokumen yang diminta oleh Direktorat untuk disampaikan lewat email. Untuk kelancaran komunikasi antara kami dalam rangka persiapan keberangkatan ke Bangkok, maka direktorat membuat Group WA Jelajah Literasi Bangkok agar mempermudah penyampaian informasi atau menampung pertanyaan-pertanyaan kami yang dianggap perlu sehubungan dengan persiapan keberangkatan ke Bangkok.

Pada hari yang telah ditentukan berangkatlah saya ke Jakarta pada hari Kamis pagi untuk bergabung dengan 9 penulis lainnya di salah satu hotel yang tidak jauh dari bandara Soekarno Hatta, komunikasi dalam Group WA untuk saling memberi info yang sudah tiba di hotel dan yang sudah berada di kamar sehingga kami dapat mengenal langsung teman-teman lainnya. Dan setelah makan malam bersama kami mendapat pengarahan dari bu Emilda Lovisia dan bu Ida Faridah dari Direktorat juga menyerahkan semua persyaratan administrasi yang telah kami bawa dan sembari saling tukar menukar buku karya tulis masing-masing serta berbagi cerita, sungguh kami semua merasa senang dan gembira.

Keesokan hari kami berkumpul dan bersama dari hotel menuju ke bandara Soekarno Hatta, rombongan kami bertambah beberapa orang teman dari Direktorat yang ikut mendampingi perjalananan ke Bangkok. Rasa kantuk saya telah dikalahkan rasa gembira karena akan merasakan perjalanan bersama rombongan penulis ini. Kebetulan di dalam pesawat dari Jakarta menuju Bangkok saya duduk bersebelahan dengan ibu Wahyuningsih, setelah terbang 3,5 jam mendaratlah pesawat Air Asia QZ250 yang saya tumpangi di bandara Don Muang, Bangkok. Sambil menunggu tibanya Bapak M.Ikhsan ketua Media Guru Indonesia dan Bapak Eko Prasetyo beserta rombongan Media Guru lainnya yang belum mendarat, saya mengisi waktu dengan swafoto dan foto bersama teman-teman di bandara Don Muang. Setelah rombongan lengkap dengan menggunakan 2 bis saya menuju ke tempat Seminar “Digital Literacy towards the Industrial Revolution 4.0 Era” yang diselenggarakan oleh SEAMEO (The Southeast Asian Ministers of Education Organization), dengan rasa ingin tahu dan semangat untuk mengerti saya mengikuti seminar ini. Dari tempat seminar rombongan Media Guru menuju tempat makan malam, dengan lahap saya menyantap makan malam yang telah disediakan, selesai makan malam rombongan menuju Livotel Hotel untuk bermalam disana, rasa badan capai dan kantuk mulai menjalari saya, maklum karena jam 3 pagi sudah bangun untuk persiapan berangkat. Saya sekamar dengan ibu Rini dari Bojonegoro penulis rombongan Media Guru dengan nyenyak melewatkan malam pertama di Bangkok.

Dengan menggunakan kaos lengan panjang kombinasi warna putih dan biru muda yang diberikan oleh Direktorat hari kedua rombongan mulai menjelajah kota Bangkok diawali berkunjung ke Kuil Wat Arun yang berada di pinggir sungai Chao Phraya dengan naik perahu boat mengarungi sungai terlebar di Bangkok, sebagai tempat wisata kuil ini selalu dalam keadaan bersih,dan foto raja Thailand yang besar terpampang di taman didepan kuil bersanding dengan bendera Kerajaan dan bendera Thailand sebagai penghormatan yang tinggi kepada raja dan negara. Saya menyempatkan untuk berfoto dengan latar belakang kuil Wat Arun menggunakan busana khas negeri Gajah Putih layaknya puteri raja. Dari kuil Wat Arun rombongan melanjutkan perjalanan ke Ton Son Mosque yang merupakan masjid tertua di Bangkok, diperkirakan dibangun sebelum pemerintahan Raja Song Tham tahun 1610-1628 dan juga sebagai Islamic Center di Bangkok yang dapat menunjukkan adanya perkembangan agama Islam di Bangkok. Setelah puas melihat masjid Ton Son dan berfoto bersama, setelah makan siang dilanjutkan ke Platinum Fashion Mall dan MBK Center membeli pernak pernik yang bercirikan Thailand, dilanjutkan ke Erawadee tempat menjual obat-obatan berbahan herbal, tertarik saya membeli obat gosok yang hangat untuk mengolesi kaki yang mulai pegel karena berjalan kaki cukup lama di dalam kedua Mall ini namun tidak mengurangi semangat saya untuk mengikuti rombongan ke tempat wisata Asiatique lengkap dengan Bianglala yang tampak dari kejauhan, matahari sudah terbenam tampak gemerlap lampu bianglala menambah keindahan Asiatique the Riverfront yang berada dipinggir sungai Chao Phraya yang bernuansa pergudangan pelabuhan yang luas namun didalamnya berisi toko-toko yang menjual souvenir, baju, oleh-oleh dan resto-resto tempat kuliner, suatu penataan tempat wisata yang unik dan menjadi daya tarik wisatawan asing maupun domestik menghabiskan malam minggu disana, dan cukup larut malam rombongan meninggalkan Asiatique menuju ke Livotel Hotel tempat rombongan bermalam.

Tepat hari Minggu adalah hari ketiga merupakan hari terakhir saya berada di Bangkok, setelah makan pagi di hotel rombongan Direktorat dan 10 penulis memisahkan diri dari rombongan Media Guru karena akan mengunjungi Kuil Wat Pho yang terkenal dengan patung Budha Berbaring ukuran raksasa dan memiliki banyak patung Budha berbagai ukuran yang mencapai jumlah ribuan patung dan lebih banyak dibandingkan kuil lainnya. Kuil Wat Pho dibangun dengan gaya arsitek khas Thailand yang kaya budaya dengan ditempel batu-batu manikam dan dihiasi pecahan porselen warna warni membuat kesan unik dan mewah, kuil Wat Pho bersebelahan dengan The Grand Palace atau Istana Raja yang memberlakukan aturan berbusana dengan menutupi tungkai dan kaki apabila ingin masuk ke dalam Istana. Diluar pagar Grand Palace saya menyempatkan diri foto di Tuk-Tuk ukuran panjang adalah alat kendaraan transportasi mirip bajaj khas Thailand yang dipakai hampir di seluruh wilayah Thailand.

Matahari semakin tinggi, setelah menjelajahi Kuil Wat Pho dan Istana Raja yang luas, rombongan menuju ke tempat pembuatan tas yang dari bahan kulit ikan pari, kulit buaya yang harganya tidak terjangkau untuk saya beli, kemudian rombongan menuju ke bandara Don Muang untuk kembali ke Jakarta menggunakan Air Asia QZ253, sebelum jam 20.45 waktu setempat pemberitahuan boarding diumumkan, badan penat kaki pegel, saya berharap dapat tidur di kursi pesawat yang mengudara.

Arloji tepat menunjukkan jam 00.20 waktu Jakarta mendarat pesawat yang saya tumpangi di bandara Soekarno Hatta, setelah mengurus semua dokumen keimigrasian dan mengambil bagasi rombongan menuju Hotel Orchardz untuk beristirahat sebelum esok Senin sore saya kembali ke Lombok dengan membawa kenangan indah dalam kebersamaan bersama teman-teman penulis.

 

Redaksi Desapedia