Desapedia

Camat

Ilustrasi Camat (Ist)

Di masa lalu camat punya kuasa yang besar terhadap wilayah, desa, penduduk dan masyarakat. Desa diposisikan sebagai pemerintahan terendah di bawah camat. Sekalipun selembar daun yang jatuh dari pohon, camat harus tahu.

Camat juga priyayi dan jabatan mentereng di level lokal. Sebelum tahun 1977, camat dapat motor dinas, yang saat itu jumlah motor di kecamatan bisa dihitung dengan jari. Indonesianis asal Amerika, Mbah William Liddle (yang juga gurunya guru saya Prof Afan Gaffar dan Prof Mohtar Mas’oed), tahun 1971 pernah tinggal di Brosot Galur Kulon Progo, pernah bercerita: “Pada tahun 1971, masyarakat tahu kalau ada motor lewat, pasti Pak Camat atau Tuan Liddle”.

Pada tahun 1977, camat mulai dapat mobil VW kodok warna orange sebagai kendaraan operasional pemilu 1977. Tahun 1982 camat dapat mobil colt T warna orange juga. Hampir setiap hari, entah siang atau malam, camat berkeliling desa pakai mobil itu. Dengan “perintah halus”, mobil itu sudah penuh dengan hasil bumi maupun ternak kecil, persembahan dari kepala desa.

Karena punya kuasa besar dan makmur, anak-anak camat di masa lalu umumnya (tidak semua) tampil petantang petenteng, sok kuasa. Para guru di SD sampai SMA pun juga mengistimewakan anak-anak camat, mungkin karena takut atau silau pada kuasa, atau mungkin juga membuat sosok “pusat teladan” bagi anak-anak lain.

Namun reformasi mengubah kecamatan. Prof Ryaas Rasyid, Dirjen PUOD, pada tahun 1999 sempat berpikir radikal untuk membubarkan kecamatan. Tetapi banyak pejabat yang menolaknya, dengan alasan “kecamatan adalah benteng NKRI, kalau kecamatan dibubarkan maka NKRI akan runtuh”. Akhirnya kecamatan tetap dipertahankan. Yang dihapus adalah kota administratif, pembantu gubernur dan pembantu bupati. Meski kecamatan masih ada, tetapi kuasa camat dipreteli hanya sebagai perangkat daerah: administrator, koordinator dan fasilitator. Sampai hari ini, setiap camat yang saya jumpai, pasti mengeluh dengan kuasanya yang terbatas, hanya sebagai fasilitator seperti layaknya LSM.

Dalam praktik camat menjalankan seni, ada seni berkuasa ala birokrat dan ada pula seni fasilitator. Ada tiga tipe camat yang saya jumpai di banyak tempat. Pertama, sebagian kecil camat yang berpredikat baik, menjalankan seni fasilitator yang memudahkan desa dalam menjalankan kerjanya. Camat semacam ini ingin dicintai desa dan rakyat, punya mimpi kelak menjadi bupati atau bahkan menjadi gubernur seperti Pakde Karwo di Jatim.

Kedua, lebih banyak camat lain yang hadir sebagai “tukang kontrol”, menjalankan seni berkuasa birokratik, yang biasa melarang dan mempersulit kerja desa. Juga biasa main perintah kepada kepala desa.

Ketiga, serupa dengan camat birokratik, tidak sedikit camat yang hadir sebagai “tukang minta” di balik prosedur konsultasi, verifikasi dan evaluasi pekerjaan desa.

Dr. Sutoro Eko

Ketua Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa - APMD