28.5 C
Jakarta
Sabtu, 11 Juli 2020
Beranda Desa Budaya Mudik: Tawarkan Para Perantau untuk Menetap Kembali ke...

Budaya Mudik: Tawarkan Para Perantau untuk Menetap Kembali ke Desa

Rekomendasi

Lainnya

    Dana Desa Tetap Ada, Tahun 2021 Dianggarkan Rp 72 Triliun  

    Jakarta, desapedia.id – Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menjawab keraguan berbagai pihak perihal masa depan...

    Satgas Dana Desa Tegaskan Dana Desa Bukan Milik Kades, tapi Milik Masyarakat

    Jakarta, desapedia.id - Pemerintah desa sejak tahun 2015 lalu telah mengelola anggaran yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja...

    Akhmad Muqowam Sesalkan UU No. 2/2020 Mencabut Dana Desa

    Jakarta, desapedia.id – Pada pasal 28 angka 8 UU Nomor 2/2020 berbunyi: Pada saat Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini...

    Jakarta, desapedia.id – Mudik selalu menjadi momen yang dinantikan pada akhir Ramadan. Menurut DR. Diana Fawzia, MA, Ketua Pusat Pengkajian Politik dan Pengembangan Masyarakat Universitas Nasional (P4M UNAS), mudik memiliki makna mahabah (perasaan kasih sayang), kebahagiaan kembali ke fitrah; dan asal.

    “Budaya mudik mengajak perantau kembali ke desa,” kata Diana kepada Desapedia.id, di Jakarta, Selasa (4/6/2019).

    Lalu, bagaimana menempatkan budaya mudik dalam konteks visi membangun indonesia dari desa? “Dengan adanya pembangunan desa, desa bisa jadi lebih menarik dan menjanjikan,” ujar Diana.

    Selain berdampak pada perputaran uang dan masuknya uang ke desa, lanjutnya, perantau juga bisa mempertimbangkan untuk kembali ke kota atau menetap di desa. “Perantau bisa melakukan banyak hal di desa yang sudah lebih punya prospek,” tutur Diana.

    Kendati begitu, meskipun sudah ada UU Desa sejak 2014 lalu, fakta di lapangan menunjukkan tingkat urbanisasi terus mengalami kenaikan terutama pasca pelaksanaan mudik. Apakah secara sosial, ekonomi dan kesejahteraan desa belum menjadi magnet atau daya tarik?

    “Desa harus punya sesuatu yang unik yang tidak ada di kota. Atau ada sesuatu yg bisa dilakukan di desa dan jika digarap di desa akan memiliki nilai tambah ketimbang bila digarap di kota,” jawab Diana.

    Dia menilai, pembangunan desa memang sudah on track. Tapi yang belum dioptimalkan adalah gerakan masyarakat desa dan memunculkan pemimpin desa yang bisa menggali keunikan desa untuk dikembangkan dan dijual.

    “Selain itu, pelatihan dan pengawasan penggunaan Dana Desa harus menjadi prioritas. Jangan sampai besaran dana ditingkatkan tetapi penggunaan dan pengawasan kedodoran,” tegas Diana. (Red)

    Belangganan Newsletter

    - Advertisement -Kontak Untuk Beriklan Di Desapedia
    Desa Siaga Corona Covid-19

    Covid-19

    Indonesia
    72,347
    Kasus Positif

    Indeks Berita

    Hingga 7 Juli, 97 Persen BLT Dana Desa Telah...

    Jakarta, desapedia.id – Dana Desa yang telah tersalurkan ke desa hingga 7 Juli 2020 sebanyak 74.865 yang setara 99...

    FAO Beri Peringatan Ancaman Krisis Pangan, Kementerian Desa PDTT...

    Jakarta, desapedia.id – Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) memberi perhatian yang cukup besar di sektor ketahanan pangan. Hal ini demi...

    Pengaturan Dana Desa di UU Nomor 2 Tahun 2020...

    Jakarta, desapedia.id – Anggaran Dana Desa (DD) yang bersumber dari APBN sebagaimana diatur dalam pasal 72 UU Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa semestinya...

    PSHK: Terjadi Degradasi Perencanaan Legislasi Atas Nama Evaluasi

    Jakarta, desapedia.id – Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK) merilis siaran pers pada Jumat (3/7) terkait perubahan program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas tahun...

    UU Nomor 2 tahun 2020 Menghilangkan Kewenangan Lokal Berskala...

    Jakarta, desapedia.id – Mantan Wakil Ketua DPD RI yang juga pernah menjadi Ketua Panitia Khusus (Pansus) DPR RI untuk pembentukan UU Nomor 6 tahun 2104...

    Berita Terkait